
Jumat malam kemarin saya diajak teman, (teman sesama jenis, iya…laki-laki. Kalo yang ngajak lain jenis ijinnya bisa njlimet, birokrasinya ruwet, ato malah bisa jadi saya dipasung, diborgol, mulut dilakban sama bune arek-arek. Hadeuh rapenting banget) ke festival seni Surabaya, Temanku ngajak melihat pertunjukan teater. Ini pengalaman pertama saya.
O iya malam itu juga barengan dengan konsernya Deadsquad. *Curiga jangan-jangan pakdhe satu itu ikut berhitam-hitam ria ditengah hentakan gemuruh itu* Mmm…ga penting kayake…
Teater ini dimainkan oleh Teater KOMA yang dipimpin oleh N Riantiarno. Penampilan di festival ini, mereka mengambil tema tentang AIDS dengan judul Rumah Pasir.
Begini ceritanya.
Dikisahkan tentang seorang pengusaha muda bernama Galileo Kastoebi yang biasa dipanggil Leo yang gemar berganti pacar. Dia kaya raya, penuh semangat, romantis, pandai bergaul dan mudah jatuh cinta. Tiap gadis -gadis menyukai dia dan memimpikan jadi pasangannya. Ini juga kisah seorang wanita yang juga sekretaris dari Leo. Wieske namanya, pemuja Leo yang setia. Wanita ini tulus mencintai, seakan tak peduli betapa unik perangai Leo.
Leo menikmati kehidupan gemerlap dan pergaulan bebas metropolitan, berganti-ganti pasangan, entah dengan tante-tante, maupun gadis-gadis, dan tidak pernah dengan wanita komersial. Hingga HIV menyusup ke dalam tubuhnya. Sang Maut pun membayangi.
Sahabat Leo, Bambang Nirwanto, seorang jurnalis pemerhati masalah AIDS membawa Leo ke Klinik Tatyana Ridanda seorang dokter dan juga aktivis menangani pencegahan HIV/AIDS.
AIDS tanpa ampun mengerogoti Leo. Dia kecewa karena mantan-mantan pacarnya tak sudi menjenguk, takut tertular. Hanya wieske yang menjenguk hingga nafas terakhir.
Kisahpun berlanjut. Wieske yang pernah diajak kencan, dan karena menyerahkan segalanya untukĀ Leo seorang, terlanjur hamil. Wieske pun tertular, bersyukur janinnya tidak.
Perlu keberanian untuk menanggung akibat dari perbuatan diri sendiri. Perlu keberanian untuk menyadari, bermain-main dengan seks tanpa pengetahuan yang memadai ibarat mengajak Maut datang mendekat. Cerita diatas mungkin bisa dijadikan cermin. Cermin kita yang hidup diantara begitu banyak godaan.
*Cerita diatas disadur dari ringkasan Lakon Rumah Pasir.
Selain itu, dalam cerita diatas mengajak kita jangan takut tes darah untuk mengetahui ada tidaknya virus HIV. Karena HIV menular tidak hanya dengan hubungan bebas tanpa pengaman, bisa juga tranfusi darah, suntikan yang tidak steril.
Saya sudah tes HIV, dan hasilnya Alhamdulillah positif………Thingking saja hehehehe…*gapentingpol
Pengalaman ini sangat berharga buat saya. Yang awam sekali dengan teater. Pertunjukan dengan skil acting yang sangat mengagumkan, bermain selama 2 jam, tanpa ada “Cut” khas sutradara, tapi tidak ada satupun pemain yang seperti salah ngomong, tidak ada salah acting, acting yang total. Belum lagi yang pake baju hitam-hitam ketat yang katanya gimik, koreonya keren, meliukkan badan dengan gerakan yang..apa ya..susah menggambarkannya…pokoknya indah, lucu, artistik. Keren pokoknya.
Satu lagi…..Jangan sungkan-sungkan ngajak saya liat teater, apalagi lengkap dengan akomodasinya. *diracun, ketagihan*
Gambar diambil disini.
teater emang seru mas.. aku dulu aktif di teater SMA, bahkan ikut pentas 2x