Pertama-tama, tulisan ini hanya hiburan semata dan fiktif belaka. Tidak untuk memojokkan siapa-siapa. Hanya yang nulis yang suka mojok.*Lhoh eh*
Kedua, tulisan ini jangan diperdebatkan, tapi kalopun ada, yang nulis tidak bermaksud tulisan ini untuk dijadikan perdebatan. Karena yang nulis bukan kusir.
Ketiga, Jika tulisan ini tidak berkenan, maka yang nulis mohon maaf sebesar-besarnya kepada pembaca yang budiman. Karena kemampuan yang nulis memang teramat sangat minim dan sekaligus mohon bimbingannya. Tapi jangan bimbing wuluh ya…kecut banget soale.(Heleh Apaaan coba’.)
Keempat, yang nulis ganteng. *Ngaca…….eh iya bener. Ganteng ternyata…..kutu rambutnya *
Kelima, tulisan ini panjang dan jelas jelas ga jelas blas mau dibawa kemana, jadi bukalah hatimu bukalah sedikit untukku…:|
Malam ini giliran Dasman dan Lik Parjan ronda. Dasman kebetulan sudah berada di pos ronda. Sambil nunggu lik Parjan, Dasman mengeluarkan gorengan dan kacang rebus yang dibuntel koran yang dibeli di warung milik Bu Marsih. Tidak lupa menyiapkan wedang kopi yang selalu ada di pos ronda. Iseng-iseng Dasman membaca Koran bekas buntelan kacang.
Dari kejauhan Lik Parjan melihat Dasman sudah di pos ronda. Berjalan mendekat. Semakin dekat Lik Parjan melihat mimik Dasman yang pringas pringis bengis, senyam senyum mesum, mesam mesem asem.
“Lha Dalahh…krumpyaaang…..”Lik Parjan bermaksud mengagetkan Dasman.
“Wuek ee…Lik Parjan, ngageti aja sampeyan…”Dasman terperanjat, menurunkan Koran dari depan mukanya.
Lik Parjan terkekeh.
“Lha kamu tak liat dari jauh kok ngguya ngguyu, pringas pringis dhewe, emang ada apa tho?”. Sambil mengambil posisi duduk.
“Hehe..ga ada apa-apa Lik. Cuman ini lho (nunjuken Koran bekas dengan judul Seleksi Calon Pimpinan KPK molor) abis baca ini saya kok curiga jangan-jangan indikasi adanya pesanan pimpinan KPK ini ada benarnya juga yo lik.”
“Heiss…kamu itu tahu apa, gayamu sok ngerti ae, wes ga usah ikut-ikut masalah kayak gitu.”Nyruput kopi yang sudah dibuatkan Dasman.
“Haha…Iya Lik, Cuma yaaa… itu…kalo kelamaan kan nanti para koruptor itu jadi leluasa …..hihihihi…”.Ngambil gorengan.
“Ooo alah Man…Dasman…tambah ngawur ae kamu, tahu darimana koruptor jadi leluasa? trus hubungannya apa dengan Seleksi pimpinan KPK yang molor trus kecurigaanmya ada pesanan itu?” Lik Parjan geleng-geleng kepala.
Dasman ngakak…
“Lhoh bukane sampeyan sudah tahu?” Dasman malah plengah plengeh…”Aku kan ngawur lik…”Ngakak-ngakak ga karuan.
“Wooo….pancene cah gemblung!!!”Lik Parjan tampak mangkel. Lalu ambil gorengan dengan seketika memakannya dengan anyel.
Dasman masih sedikit ngakak.
“Sori lik, hihi…sudah to mangkelnya”
“Gini lho lik, sampeyan kan tahu, pimpinan KPK lagi disidang, sedangkan Pjsnya juga diproses, sekarang calonnya diolor-olor, gimana ga makin leluasa tho para koruptor itu. Lha kalo hubungannya dengan pesenan sama pembatasan jabatan itu, misalkan…misalkan lho ini lik…hehe…misalkan pimpinan KPK yang terpilih bener yang pesenan dari penguasa, pimpinan KPK ini akan manut dengan apa yang penguasa inginkan. Contohnya disuruh nangkepi lawan-lawan politiknya. Sampeyankan tahu juga tho kang kalo lawan-lawan politiknya dulu pernah jadi pejabat juga.”Nyruput kopi. “Lhaa trus…pas pemilu nanti, lawan-lawannya sudah ndak ada, wong sudah ditangkepi…Nah kesempatan ini yang dijadikan beliau nyalon lagi dengan alasan yang dibuat-buat mengatasnamakan rakyat, karena rakyat sudah kadung kena sindrom pencitraannya itu.” Piye Lik…? Sip tho awuranku..” Dasman terkekeh.
“Hmm Tambah ga karu-karuan pikiranmu man…” Tersenyum geli.
“Keliatan kalo ngomongmu itu tanpa reprensi blas…Haha”Lik Parjan tergelak.
Dasman ikut tergelak. “Yo maklum tho lik, sampeyan ngerti kalo aku kuliah ga lulus lulus…hehe..”
“Eh tapi ngomong -ngomong anu lik.”
“Anu apa?”Nyumet rokok.
“Aku tu pernah ngayal, sampeyan mau tho ndengerin kayalanku?”
“Heleh. Ngayal apa lagi???! Tahu-tahu kok kamu pengen crita kayalanmu.”Lik Parjan sedikit heran.
“Hubungannya sama koruptor lik.”
“Aku ngayal pengen jadi pemberantas para pejabat korup lho lik. Aku punya rencana ngumpulin semua data tentang hartanya, penghasilan yang diperoleh, rekening yang digunakan, trus motif korupsinya, sama kelakuan di mata masyarakatnya itu gimana. Nah kalo sudah, rencana selanjutnya menghilangkan nyawanya dengan diam-diam. Misalnya ditembak dari jauh menggunakan sniper dengan peredam. Setelah itu meninggalkan secarik kertas yang berisi dosa-dosa tentang dirinya.” Hehe…gimana lik?”
“Wah wah wah….ngayalmu nggladrah tenan man. Lha kamu ngerti tho dimana belinya senjata itu? Aneh-aneh man man. Ga segampang itu Lee le. Wes ah…wes tambah malem…ayo ronda mbangunin sahur daripada dengerin kamu ngeciwis ga jelas blas”. Beranjak mengambil kenthongan.
“Ya wes ayo.”
Mereka pun meronda keliling kampung. Dasman tak lupa sambil teriak membangunkan warga untuk segera sahur…
“Bapak-bapaaak, ibu-ibuuuuuu…kulo aturi enggal-enggal sahuuuurrrrr….amargi sak meniko sampun jam…………….pinteen nggiiiih???”(terjemahan : Bapak-bapak, ibu saya harap segera sahur…karena sekarang sudah jam…………berapaa yaaa???)Dasman ngakak karena kepikiran tadi waktu mau keliling ga liat jam.
Lik Parjan sambil terkekeh…”Woooo jiyan cah ra mingsro!!”Noyor kepalanya Dasman.
Gambar sengaja tidak ada hubungannya dengan tulisan. Karena mungkin jika tidak berkenan dengan isi tulisan, paling tidak menikmati gambarnya saja.