Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Openmic

25 Januari 2012

Sejarah! Berawal dari ikut #SharingIlmu dari @StandUpIndo_Sby 15 Januari 2012.  Rabu malam disebuah cafe Comedykopi Grand City Surbaya. Akhirnya saya memberanikan diri mencoba Openmic. Terimakasih buat adminnya StandUpIndo_Sby, mas angga. Yang ngasih kesempatan buat saya mencoba openmic.

Foto ini jebretan dari mas Arthur ML

…. Dan openmic pertama saya,  hasilnya cukup mengenaskan :( ( sedikit yang ketawa….

Memang saya akui materi masih mentah sih kayaknya :D , dan ternyata memang susah ya, karena pada dasarnya saya itu sangat jarang ngomong didepan umum, jadi delivery materi agak belibet…bahkan kemarin itu ada yang blank…hahaha…., belum lagi intonasinya, ah masih banyak yang mesti dipelajari lagi. Kalau kata mas angga, jadi comic itu mesti openmic 50-100 kali,  jadi saya baru sekali, jalan masih panjang, kesempatan masih terbuka lebar. Buat saya, openmic pertama ini yang penting njajal mental dulu hehe…


Neper main…Neper gip ap….:D. Coba lagi..lagi…dan lagi…..

What a day…26 Desember 2011

Sebelum magrib. Teplon toko alumunium pesenan lemari kacaku dah jadi apa belum. Ternyata sudah. Kapan dikirim? Malam ini katanya, sekitar jam 7-an. Ok aku tunggu. Waktu berlalu….setengah 7, aku teplon lagi…masih belum berangkat. Sedikit mrongkol dalam hati. Bagaimana tidak? Katanya kamis sudah mau dikirim, lalu sabtu, dan kemarin senin, ternyata belum dikirim juga. *Brengkess!!! Akhirnya aku tinggal ke Rumah mertua. Pengajian.

Sampai sana pengajian dimulai, ditengah pengajian teplon lagi…..dan….makin mrongkol pooolll….Katanya ga bisa dikirim malam ini, besok katanya….karena lagi pengajian, aku pun cuma bisa bilang Astaghfirullahalaziim…*Kalo ga lagi ngaji mungkin yang keluar…Assssss paallll…*

Pengajian kelar. Saatnya makan. Makan sop buatan ibu mertua memang enak. Maklum sudah jarang sekali makan disana sejak 4 tahun lalu. Ya…dulu aku masih ikut mertua, dan sering dimasakin sop.

Makan sop sambil liat Chelsea vs. Fulham. Lagi asyik liat TV…tiba-tiba…*PLUNG* Anakku yang paling kecil menjatuhkan HPku jatuh tepat dimangkok sop panas yang masih banyak kuahnya…dan HPnya sukses MATI. *dalam hati: Alhamdulillah Ya Allah, Kau tunjukkan aku untuk segera ganti HP..mau ganti apa ya enaknya…Iphone, BB, Smartphone, Android…atau….?* Istriku tiba-tiba nyaut… “Ya udah  yah, pake punyaku dulu, kebetulan aku dah bosen sama ini…aku mau ganti BB atau Android aja ya yah.”  -__-‘’Dan Buyar semua mimpiku. Aku jawab “ Ga ah…ganti HP China aja…yang seratus ribuan..” dengan ekspresi yang datar. Dan kayaknya istriku ga begitu suka dengan jawabanku. *Njabrut* *dalam hati: daripada beli BB atau Android yang ujung-ujungnya yang make dia* *sama istriku kok itungan* *Biarin :p* lalu…*Aaakhh.*Aku dicubit!…*nyengir* “Iove you honey…Ok kapan-kapan ya beli androidnya…merek China ga papa kan?” :D

Babak pertama Chelsea VS Fulham selesai. Balik ke rumah. Lanjut liat Bola. Sampai MU VS Wigan selesai. Saatnya tidur. Tidur ga begitu nyenyak. Jam setengah tiga, tiba-tiba anak pertama nangis, aku lari ke kamarnya. Ah…kening anakku sudah penuh darah…dia jatuh dari tempat tidur. Buru-buru aku dan istriku ke klinik 24 jam. Disana kening anakku dijahit dengan 3 jahitan. Ah What a day…

Terimakasih Ya Allah dengan segala yang telah Engkau berikan.

Mumpung masih inget, Ini waktu malam jumat.

Seperti biasa tiap malam jumat istri saya belajar ngaji ke rumah orangtuanya. Ngaji khusus ibu-ibu, makanya saya ga ikut.(heleh)

Nah saya dirumah jagain dua jagoan saya. Ketika mereka sedang asyik dengan mainannya, saya mencoba belajar standup comedy…(meski entah kapan mau openmic….hahaha mental tempee…)

Yah memang saya lagi seneng sama standup comedy, sebuah hiburan komedi alternative yang mungkin jarang dinikmati di Indonesia. Diawali dari twitterannya om radityadika yang entah berapa bulan yang lalu, kemudian ada acara kompetisi standup di kompasTV, standupshow di MetroTV, serta standupindo di Youtube. Hampir ga terlewat nonton mereka.

Ada pula admin twitter standup di beberapa kota di Indonesia yang sudah punya jadwal openmic di café. (Sayangnya saya belum pernah liat langsung ke café)

OK..

Nyalain tape, pasang mic…dan..mulai…Bla bla blaa…(maaf materi standupnya ga ditulis…bukan apa-apa…malu saya.)

Ditengah latihan anakku yang pertama senyam-senyum aja. Tak berapa lama dia nyuruh adiknya ngasihkan kertas ke saya dan disuruh baca…

Agak ga jelas memang masih belajar nulis. Ini tulisannya “AYAH-AYAH MENDINGAN AYAH MENJADI SETEDA KOMEDI”

Seteda?

“Seteda itu apa” Saya coba nanya.

“itu lho yah yang di TV itu yang ngomong sendiri, kan ayah juga pernah liat di HPnya ayah juga” jawabnya. (kira-kira begitulah seinget saya)

..ah…ternyata maksudnya standup.

Saya tersenyum…

“Tadi kamu tau ga yang ayah omongin?”

“Ga tau semua sih, tapi kayaknya lucu…itu lho yang tadi ayah ngomong assalamu’alaikum trus kayak ustad…ustad kalo ga lucu ga laku...hehehe”. Dia tertawa…persis kayak saya ternyata..*Lhoh, lha wong anaknya… mosok kayak orang lewat.*

“Yang ga tau yang mana?” Saya tanya lagi.

“Itu lho yang iklan biskuit…kenapa ayah ngomongin iklan? Lha ayah kalo liat tv pas iklan aja diganti kok…”

Saya pun tergelak…

aah…kapan ya njajal open mic?(masih minim materi….padune jirih!)

(ngumpulin keberanian….duit juga…biar bisa mbayar jajan di café…)

NB:

Tulisan macam apa inih…

Mau kerja mandi dulu dong…
pakai sabun biar wangi. Tidak lupa gosok gigi pakai odol biar mulut juga wangi, tidak lupa kramas pakai sampo yang bikin rambut jadi seger dan tentu saja…wangi.

Abis mandi badan pakai deodorant biar wangi. Lalu pakai pakaian, maunya pakaian yang sudah dicuci dong, tentu saja pakai sabun cuci yang baunya bikin wangi, lalu dibilas pakai pewangi, plus pelembut pakaian yang wangi juga, dan tentunya baju itu sudah disetrika pakai pelicin yang wangi juga.

Abis pakai pakaian disemprot lagi dengan minyak wangi.

Baru deh berangkat kerja. Naik motor, pakai jaket buat ngelindungi badan plus pakaian yang sudah wangi.

Sayangnya naik motor, pakai jaket pula, pas dijalan yang padat bercampur dengan kendaraan lain, asep sama debu jadi satu. Sudah gitu macetnya bikin cepet keluar deh keringetnya. Deodoran pun kalah sama keringet. Keringet nempel di pakaian. Wangi pakaian jadi ilang gara-gara keringet. Ujung-ujungnya yaaa…. tetep aja sampe kantor kumus-kumus.

Jadiii….saya sarankan mandilah dikantor saja pasti terhindar dari kumus-kumus…hehe

 

(Cerita diatas hanyalah alasan dari seorang lelaki yang takut terlambat sampe kantor gara-gara absen pakai finger print, karena kalo terlambat bisa dipotong gajinya. Jadi, sebenernya lelaki itu berangkat buru-buru ga pake mandi ngejar absen…hehe)

 

Ah…andai saja finger print itu online. Bisa ditaruh didekat jam weker kamar…

 

 

Selamat pagi, selamat beraktifitas…dan Salam kenal semuanya….:D

 

Pulang kantor, mampirlah lelaki itu di Indomaret. Mampirnya bukan tanpa alasan, sebelum pulang, istrinya sudah SMS untuk membelikan susu anak-anaknya.

Sampai Indomaret, pertama yang dia tuju adalah ATM, maklum tanggal tua, dompet sudah tipis.

Kebetulan ATM ada didalam Indomaret. Terlihat tidak ada antrian, hanya seorang pria dengan anak laki-lakinya yang sedang berada di ATM. Sejurus kemudian mereka sudah berlalu dari mesin ATM itu.

Giliran lelaki itu di depan mesin ATM. Alangkah terkejutnya, dilayar mesin itu masih ada petunjuk menu “Selesai” dan “Transaksi lainnya”. Tanpa pikir panjang, lelaki itu langsung mencet tombol “Cancel”. Keluarlah kartu ATM. Diambillah kartu itu bersama dengan struk kertas yang masih nyenthel.

Bergegas mencari pria bersama anaknya itu.

“Pak…pak…kartunya…”lelaki itu menyerahkan kartu ATM bersama dengan struknya.

“Makasih mas” tersenyum kemudian berlalu saja.

Sebenarnya bisa saja lelaki itu tinggal mencet transaksi lainnya, lalu menguras ATM itu. Tapi menurutnya itu bukan haknya dan bukan rejekinya, karena rejeki sesungguhnya adalah ketika mengembalikan kartu itu kepada pemiliknya.

Rumah pasir

 

Jumat malam kemarin saya diajak teman, (teman sesama jenis, iya…laki-laki. Kalo yang ngajak lain jenis ijinnya bisa njlimet, birokrasinya ruwet, ato malah bisa jadi saya dipasung, diborgol, mulut dilakban sama bune arek-arek. Hadeuh rapenting banget) ke festival seni Surabaya, Temanku ngajak melihat pertunjukan teater. Ini pengalaman pertama saya.

O iya malam itu juga barengan dengan konsernya Deadsquad. *Curiga jangan-jangan pakdhe satu itu ikut berhitam-hitam ria ditengah hentakan gemuruh itu* Mmm…ga penting kayake…

Teater ini dimainkan oleh Teater KOMA yang dipimpin oleh N Riantiarno. Penampilan di festival ini, mereka mengambil tema tentang AIDS dengan judul Rumah Pasir.

Begini ceritanya.

Dikisahkan tentang seorang pengusaha muda bernama Galileo Kastoebi yang biasa dipanggil Leo yang gemar berganti pacar. Dia kaya raya, penuh semangat, romantis, pandai bergaul dan mudah jatuh cinta. Tiap gadis -gadis menyukai dia dan memimpikan jadi pasangannya. Ini juga kisah seorang wanita yang juga sekretaris dari Leo. Wieske namanya, pemuja Leo yang setia. Wanita ini tulus mencintai, seakan tak peduli betapa unik perangai Leo.

Leo menikmati kehidupan gemerlap dan pergaulan bebas metropolitan, berganti-ganti pasangan, entah dengan tante-tante, maupun gadis-gadis, dan tidak pernah dengan wanita komersial. Hingga HIV menyusup ke dalam tubuhnya. Sang Maut pun membayangi.

Sahabat Leo, Bambang Nirwanto, seorang jurnalis pemerhati masalah AIDS membawa Leo ke Klinik Tatyana Ridanda seorang dokter dan juga aktivis menangani pencegahan HIV/AIDS.

AIDS tanpa ampun mengerogoti Leo. Dia kecewa karena mantan-mantan pacarnya tak sudi menjenguk, takut tertular. Hanya wieske yang menjenguk hingga nafas terakhir.

Kisahpun berlanjut. Wieske yang pernah diajak kencan, dan karena menyerahkan segalanya untuk  Leo seorang, terlanjur hamil. Wieske pun tertular, bersyukur janinnya tidak.

Perlu keberanian untuk menanggung akibat dari perbuatan diri sendiri. Perlu keberanian untuk menyadari, bermain-main dengan seks tanpa pengetahuan yang memadai ibarat mengajak Maut datang mendekat. Cerita diatas mungkin bisa dijadikan cermin. Cermin kita yang hidup diantara begitu banyak godaan.

*Cerita diatas disadur dari ringkasan Lakon Rumah Pasir.

Selain itu, dalam cerita diatas mengajak kita jangan takut tes darah untuk mengetahui ada tidaknya virus HIV. Karena HIV menular tidak hanya dengan hubungan bebas tanpa pengaman, bisa juga tranfusi darah, suntikan yang tidak steril.

Saya sudah tes HIV, dan hasilnya Alhamdulillah positif………Thingking saja hehehehe…*gapentingpol

Pengalaman ini sangat berharga buat saya. Yang awam sekali dengan teater. Pertunjukan dengan skil acting yang sangat mengagumkan, bermain selama 2 jam, tanpa ada “Cut” khas sutradara, tapi tidak ada satupun pemain yang seperti salah ngomong, tidak ada salah acting, acting yang total. Belum lagi yang pake baju hitam-hitam ketat yang katanya gimik, koreonya keren, meliukkan badan dengan gerakan yang..apa ya..susah menggambarkannya…pokoknya indah, lucu, artistik. Keren pokoknya.

 

Satu lagi…..Jangan sungkan-sungkan ngajak saya liat teater, apalagi lengkap dengan akomodasinya. *diracun, ketagihan*

 

Gambar diambil disini.

Kenangan

Menatap tembok. Mendekatinya lalu menggoresnya dengan sendok merangkai huruf demi huruf menjadi sebuah nama. Nama seorang perempuan. Vanya. Kemudian kembali ke tempat duduknya di meja makan.

Perempuan yang selalu dalam hatiku, yang selalu mengisi hari-hariku. Tawamu yang renyah, Senyummu nan anggun, Binar matamu yang sejuk. Ah…Bagaimana aku bisa melupakanmu? Takkan bisa. Sungguh. Takkan ada yang bisa menggantikan dirimu dihatiku.

Seorang wanita berseragam putih mendekati lelaki itu.
“Bryan…jangan lupa abis makan diminum obatnya ya..”Sambil meletakkan gelas kecil yang bersisi obat-obatan. Melirik ke tembok, lalu tersenyum dengan menggelengkan kepala.

Bryan hanya mengangguk.
Percuma saja. Pikirnya.

 

http://www2.mp3raid.com/search/download-mp3/3644872/drug_dont_work.html

Vanya. Aku ingin segera menyusulmu…

Syusyah sekali lama ga nulis…

sekalian ngetes masang lagu ;) )

 

Malam ini giliran mereka lagi. Ya, Lik Parjan dengan Dasman ronda malam ini.

Seperti sebelumnya, Dasman sudah duluan dipos ronda. Sambil nunggu Lik Parjan, Dasman buat kopi dulu setelah itu membuka papan catur, ditatanya.

Dari kejauhan tampak Lik Parjan berjalan mendekati pos ronda, terlihat senyam senyum bungah.

“We’ eee…,  keliatane lagi seneng Lik Parjan ini, senyam senyum, sampe keliatan gigimu kayak gambar bungkusan odol?” Terkekeh. Dasman nanya ketika Lik Parjan sambil mengambil posisi duduk.

“Wogh ngenyek kamu Man, mosok yo kayak gambar bungkusan odol, ini lagi dikeringken, soale tiap hari basah terus.”Lik Parjan bales sekenanya lalu terkekeh.

“Ada kabar gembira Man.” Lik Parjan menjawab dengan sumringah.

“Kabar opo Lik Parjan, Kalo kabar gembira yo mbok dibagi-bagi tho..”Dasman sambil mengaduk kopinya lagi.

“Sebentar lagi saya bakal ke Jakarta Man, bakal dapet kerjaan, katanya bosku bakal dapet proyek jadi subkontraktor, nah salah satunya saya nanti yang bakal dikirim kesana.” Sahut Lik Parjan semangat. Maklum sebagai pekerja serabutan yang kerja di sebuah perusahaan jasa konstruksi bergantung pada ada tidaknya proyek.

Lanjut Baca »

Obrolan di pos ronda

silakan dinikmati

 

 

 

Pertama-tama, tulisan ini hanya hiburan semata dan fiktif belaka. Tidak untuk memojokkan siapa-siapa. Hanya yang nulis yang suka mojok.*Lhoh eh*

Kedua, tulisan ini jangan diperdebatkan, tapi kalopun ada, yang nulis tidak bermaksud tulisan ini untuk dijadikan perdebatan. Karena yang nulis bukan kusir.

Ketiga, Jika tulisan ini tidak berkenan, maka yang nulis mohon maaf sebesar-besarnya kepada pembaca yang budiman. Karena kemampuan yang nulis memang teramat sangat minim dan sekaligus mohon bimbingannya. Tapi jangan bimbing wuluh ya…kecut banget soale.(Heleh Apaaan coba’.)

Keempat, yang nulis ganteng. *Ngaca…….eh iya bener. Ganteng ternyata…..kutu rambutnya *

Kelima, tulisan ini panjang dan jelas jelas ga jelas blas mau dibawa kemana, jadi bukalah hatimu bukalah sedikit untukku…:|

 

 

 

Malam ini giliran Dasman dan Lik Parjan ronda. Dasman kebetulan sudah berada di pos ronda. Sambil nunggu lik Parjan, Dasman mengeluarkan gorengan dan kacang rebus yang dibuntel koran yang dibeli di warung milik Bu Marsih. Tidak lupa menyiapkan wedang kopi yang selalu ada di pos ronda. Iseng-iseng Dasman membaca Koran bekas buntelan kacang.

Dari kejauhan Lik Parjan melihat Dasman sudah di pos ronda. Berjalan mendekat. Semakin dekat Lik Parjan melihat mimik Dasman yang pringas pringis bengis, senyam senyum mesum, mesam mesem asem.

“Lha Dalahh…krumpyaaang…..”Lik Parjan bermaksud mengagetkan Dasman.

“Wuek ee…Lik Parjan, ngageti aja sampeyan…”Dasman terperanjat, menurunkan Koran dari depan mukanya.

Lik Parjan terkekeh.

“Lha kamu tak liat dari jauh kok ngguya ngguyu, pringas pringis dhewe, emang ada apa tho?”. Sambil mengambil posisi duduk.

“Hehe..ga ada apa-apa Lik. Cuman ini lho (nunjuken Koran bekas dengan judul Seleksi Calon Pimpinan KPK molor) abis baca ini saya kok curiga jangan-jangan indikasi adanya pesanan pimpinan KPK ini ada benarnya juga yo lik.”

“Heiss…kamu itu tahu apa, gayamu sok ngerti ae, wes ga usah ikut-ikut masalah kayak gitu.”Nyruput kopi yang sudah dibuatkan Dasman.

“Haha…Iya Lik, Cuma yaaa… itu…kalo kelamaan kan nanti para koruptor itu jadi leluasa …..hihihihi…”.Ngambil gorengan.

“Ooo alah Man…Dasman…tambah ngawur ae kamu, tahu darimana koruptor jadi leluasa? trus hubungannya apa dengan Seleksi pimpinan KPK yang molor trus kecurigaanmya ada pesanan itu?” Lik Parjan geleng-geleng kepala.

Dasman ngakak…

“Lhoh bukane sampeyan sudah tahu?” Dasman malah plengah plengeh…”Aku kan ngawur lik…”Ngakak-ngakak ga karuan.

“Wooo….pancene cah gemblung!!!”Lik Parjan tampak mangkel. Lalu ambil gorengan dengan seketika memakannya dengan anyel.

Dasman masih sedikit ngakak.

“Sori lik, hihi…sudah to mangkelnya”

“Gini lho lik, sampeyan kan tahu, pimpinan KPK lagi disidang, sedangkan Pjsnya juga diproses, sekarang calonnya diolor-olor, gimana ga makin leluasa tho para koruptor itu. Lha kalo hubungannya dengan pesenan sama pembatasan jabatan itu, misalkan…misalkan lho ini lik…hehe…misalkan pimpinan KPK yang terpilih bener yang pesenan dari penguasa, pimpinan KPK ini akan manut dengan apa yang penguasa inginkan. Contohnya disuruh nangkepi lawan-lawan politiknya. Sampeyankan tahu juga tho kang kalo lawan-lawan politiknya dulu pernah jadi pejabat juga.”Nyruput kopi. “Lhaa trus…pas pemilu nanti, lawan-lawannya sudah ndak ada, wong sudah ditangkepi…Nah kesempatan ini yang dijadikan beliau nyalon lagi dengan alasan yang dibuat-buat mengatasnamakan rakyat, karena rakyat sudah kadung kena sindrom pencitraannya itu.” Piye Lik…? Sip tho awuranku..” Dasman terkekeh.

“Hmm  Tambah ga karu-karuan pikiranmu man…” Tersenyum geli.

“Keliatan kalo ngomongmu itu tanpa reprensi blas…Haha”Lik Parjan tergelak.

Dasman ikut tergelak. “Yo maklum tho lik, sampeyan ngerti kalo aku kuliah ga lulus lulus…hehe..”

“Eh tapi ngomong -ngomong anu lik.”                    

“Anu apa?”Nyumet rokok.

“Aku tu pernah ngayal, sampeyan mau tho ndengerin kayalanku?”
“Heleh. Ngayal apa lagi???! Tahu-tahu kok kamu pengen crita kayalanmu.”Lik Parjan sedikit heran.

“Hubungannya sama koruptor lik.”

“Aku ngayal pengen jadi pemberantas para pejabat korup lho lik. Aku punya rencana ngumpulin semua data tentang hartanya, penghasilan yang diperoleh, rekening yang digunakan, trus motif korupsinya, sama kelakuan di mata masyarakatnya itu gimana. Nah kalo sudah, rencana selanjutnya menghilangkan nyawanya dengan diam-diam. Misalnya ditembak dari jauh menggunakan sniper dengan peredam. Setelah itu meninggalkan secarik kertas yang berisi dosa-dosa tentang dirinya.” Hehe…gimana lik?”

“Wah wah wah….ngayalmu nggladrah tenan man. Lha kamu ngerti tho dimana belinya senjata itu? Aneh-aneh man man. Ga segampang itu Lee le. Wes ah…wes tambah malem…ayo ronda  mbangunin sahur  daripada dengerin kamu ngeciwis ga jelas blas”. Beranjak mengambil kenthongan.

“Ya wes ayo.”

Mereka pun meronda keliling kampung. Dasman tak lupa sambil teriak membangunkan warga untuk segera sahur…

“Bapak-bapaaak, ibu-ibuuuuuu…kulo aturi enggal-enggal sahuuuurrrrr….amargi sak meniko sampun jam…………….pinteen nggiiiih???”(terjemahan : Bapak-bapak, ibu saya harap segera sahur…karena sekarang sudah jam…………berapaa yaaa???)Dasman ngakak karena kepikiran tadi waktu mau keliling ga liat jam.

Lik Parjan sambil terkekeh…”Woooo  jiyan cah ra mingsro!!”Noyor kepalanya Dasman.

 

Gambar sengaja tidak ada hubungannya dengan tulisan. Karena mungkin jika tidak berkenan dengan isi tulisan, paling tidak menikmati gambarnya saja. :D

 

 

 

 

 

 

Mari Merangkai.

 

Kurangkai pendar kujadikan cahaya.

Kurangkai gurantan kusambung kujadikan garis tak putus penuh arti.

Kupadu mereka jadikan pemandu.

Kumantapkan langkahku menuju tempat yang telah Kau janjikan.

Semoga rangkaian itu kuat sampai saat ku menemuiMu.

 

 

 

Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menunaikan.

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.