Feeds:
Tulisan
Komentar

Petang itu..

 

Kusahut saja kunci itu dari genggamannya. Bergegas berlalu meninggalkan orang itu dengan raut muka yang masih kesal.

Berjalan menuju lift.

—–

Terlihat  kilatan cahaya dari jendela, kudekati jendela itu ternyata terbuka. Aku menutupnya.

Beberapa detik kemudian lampu mati, nyala lagi…akhirnya mati. Mungkin Listriknya mati.

Lift mati juga. Aku berusaha tak menghiraukan kejadian itu.

Terpaksa berjalan menuruni tangga.

Sampai di lobby terlihat beberapa orang berkerumun di depan pintu lobby.

Sirine mobil polisi memasuki depan lobby.

Aku segera berlari menuju kerumunan itu. Mencoba menerobosnya.

Terlihat seorang lelaki terlentang dengan tangan dan kaki sudah terputus dan bersimbah darah, wajahnya sudah tidak dapat dikenali lagi.

Tapi aku merasa mengenali baju yang dipakainya. Cincin yang melingkar dijari tangannya.

Cincin yang baru saja didepan mukaku ketika menyerahkan kunciku.

Aku mencoba bertanya pada salah satu orang yang berkerumun. Kebetulan aku juga mengenalnya.

Ternyata baru saja ada orang yang jatuh dari lantai 5 melalui jendela.

Terlihat Polisi sedang memasang Garis Polisi.

Aku masih tak habis pikir mengapa kejadian ini bisa terjadi. Trus yang ngasih kunci tadi siapa?. bertanya dalam hati.

 


 

Malam yang dingin (3)

 

“Maaf mas…ee..anu.. Chicken steak with mushroom sauce nya habis bisa ganti menu yang lain?”

“Lhoh…abis mbak,…ya sudah ganti…mmm….”Lelaki itu Bolak balik buku menu lagi.

 

” steak goreng tepung deh mbak….Cepet ya mbak…jangan lama-lama.”

“Oh iya, maaf ya mas…nunggu lagi.”Pelayan bergegas pergi.

Tak berapa lama pelayan itu kembali lagi.

“Maaf mas, steak goreng tepung juga habis…Maaf…Eee.. bisa pesan lainnya”.Dengan muka memerah malu.

“Gimana sih mbak kok habis semua, ganti lagi ni saya…ya udah mbak samain aja sama dia(Si pria)”

“Kamu tadi pesen apa?”bertanya pada pria itu.

“Oh. Saya pesen Special Steak tenderloin”

“Ya udah tu mbak. Cepet lo mbak, ni dah laper dari tadi..”Sahut Lelaki itu dengan raut muka kesal.

“I..iya mas,…Maaf mas Maaf…”Pelayan segera bergegas lagi.

 

Pelayan itu kembali untuk ketiga kalinya.

“Maaf mas, Ee… Special Steak tenderloin-nya tinggal satu…”

“Gimana sih…,Mau niat jualan ga sih…Resto aaaapaan nih….”Lelaki itu berdiri sambil memukul meja dengan muka kesal dan marah. Dan umpatan-umpatan yang keluar dari mulut lelaki itu. Untungnya resto itu sudah sepi, tinggal beberapa orang saja.

Pria itu coba menenangkan lelaki itu.

“Sudah sudah….sudah bang…Kita keluar saja nyari tempat lain…”Maaf ya mbak…”

Menarik lelaki itu untuk segera keluar. Sedang lelaki itu masih ngedumel..

 

Mereka meninggalkan resto itu.

Karena lapar sudah nggak tertahan,akhirnya mereka makan di warung tempe dan ayam penyet pinggir jalan.

Mereka tampak lahap. Dan kembali ke kost dengan kenyang.

 

—-

Sampai dikost.

Pri itu turun dari motor.”Makasih bang tadi..”.Berjalan agak cepat menahan sesuatu menuju kamar mandi.

“Halah,… ya sama-sama.”Lelaki itu membalas sedikit agak keras suaranya.

 

Keluar kamar mandi. Berjalan menuju kamarnya.

“Hei..Dit…”Suara khas dari lelaki yang lain yang masih satu kostan.

Pria ini dipanggil Adit oleh teman-temannya. Nama Lengkapnya Aditya P Dewanata.

“Hei…bang Tigor ada bang.”

 

“Tadi  ada yang cari kau…”.Kata bang Tigor.

“Siapa bang..?”

“Tak Tahulah aku, belum sempat aku tanyakan dia sudah pergi naik mobil, mobil mewah tampaknya”

“Laki Perempuan bang?”

“Perempuan, Cantik, cuma mukanya keliatan sedih.” Tadi aku ketuk-ketuk pintu kamarmu, tak ada yang buka,… aku telpon kau, kudengar suara HPmu dikamarmu..Ya sudah aku bilang padanya kalau kau sedang keluar.”

Ya sudah aku sudah tak tahan nih.”Berjalan menuju kamar mandi.

“Makasih bang.”

Berjalan sambil berpikir siapa yang mencarinya.

“Apa mungkin dia….”Menebak dalam hati.

 

 

Bersambung…

 

 

Petang itu.

 

 

Beranjak dari tempat penduduk. Berbalik arah,membuka tirai jendela.

Menatap ke arah barat dari lantai 5 sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. Awan terlihat merah, matahari tampak kembali ke peraduannya.

Kupalingkan arah pandangku pada jalan yang mulai ramai, bunyi klakson yang terdengar beriring. Melihat lampu jalan dan pepohonan yang  bergoyang tertiup angin. Angin yang kencang!

Kualihkan lagi pandanganku pada area parkir yang mulai sepi tinggal beberapa kendaraan saja. Tampak kendaraan berjajar antri di pintu keluar.

Tiba-tiba…”Heii….!”

Terdengar suara yang sangat kukenal. Kutolehkan kepalaku kemudian memutar badan. Seseorang yang sudah berdiri didepan mejaku dengan membawa Map bersampul Kertas Kerja.

 

Menaruhnya Map itu di mejaku.

“Masih banyak yang salah…betulkan…saya tunggu…Sekarang!”Perintah orang itu.

Kutatap saja orang itu.

Kupakai jaketku yang dari pagi tergantung dikursi. Kumatikan komputer, Kupakai tas ranselku, kemudian berjalan meninggalkan orang itu.

Baru beberapa langkah…

“Heii…!”

Dia memanggilku. Tak kuhiraukan.

“Heiii…!”Seru orang itu lagi. Kali ini dengan nada yang lebih tinggi.

Aku berhenti. Memutar badan dan melihat orang itu dengan tatapan sinis. Kuhampiri dia.

Saling berhadapan dan bertatap mata. Semakin tajam.

Dia berkata . “Aku ragu kau bisa sampai rumah..”

Hatiku merasakan hawa ancaman. “Kenapa..?”seruku. Masih dengan tatapan mata tajam.

Tiba-tiba tangannya yang mengepal tertuju tepat di depan mukaku. Aku tak bereaksi. Jari-jarinya membuka perlahan…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Kuncimu ketinggalan.”

@#%$($*%$

 

 

 

 

 

Harapan Semu

Seseorang sedang menunggu bintang jatuh.

Yakin dengan salah satu bintang itu membawa harapannya…

 

 

Melihat, menatap tajam ke langit.

Wahai Bintang…

Katakan padaku apa yang kuimpikan.

Katakan padaku apa yang kuharapkan.

Katakan padaku apa yang kuinginkan.

Semua telah menjadi samar.

Semua telah menjadi kabur.

Dan akhirnya lenyap.

 

Mataku terpejam…

Aku lelah menunggumu jatuh.

 

 

 

Jengah

Jengah…

Jengah ini membuatku lengah…

Hingga kau berani melangkah…

Dan tak mau kalah…

Kau lewati jalur yang tak sah…

 

Kau semakin pongah…

Kau sudah buatku marah…

Mataku memerah…

Kusiapkan samurai yang sudah terasah…

 

Kutebas tubuhmu dengan mudah…

Puncratan darahmu membuncah tanpa arah…

Tubuhku basah…Basah yang memerah…

Kau pun musnah…

 

Jengahku usai sudah…

 

Salahkah aku.

 

Ya, Salahkan aku saja.

Oh… bukan, memang aku yang salah.

Saat itu Kamu yang ingin mengenalku.

Tapi Aku yang lebih dulu menyapamu, lewat telepon rumah kostanmu.

Nomor telepon yang diberikan teman kuliahku yang juga teman kantormu.

Aku juga yang pertama SMS kamu.

Kamu membalas dengan sangat biasa dan datar. Tegas namun sederhana.

 

Tapi tetap saja aku menghubungimu.

Entah telepon entah SMS…

 

Hingga saat bicara lewat telepon, tiba-tiba kamu bertanya padaku.

 

“Boleh aku ke rumahmu?”

 

Sebelum kujawab, Aku bertanya, “memang mau apa?”

 

“Aku ingin mengenalmu lebih dekat, juga dengan orang tuamu”.Jawabmu.

 

“Ndak usah deh, kapan-kapan saja..”jawabku. Dia tampak serius sekali. Sedang aku masih ragu.

 

Waktu berlalu dan tetap saling berhubungan…

Lagi-lagi lewat telepon, Kamu menyatakan padaku kalau kamu tidak hanya ingin sekedar berteman, tapi juga mencari pasangan hidup. Saat itu aku setuju dengan pernyataanmu.

 

Akhirnya, aku mengijinkanmu berkunjung kerumahku.

Ku kenalkan dengan orang tuaku. Sebagai temanku. Namun kamu sedikit lebih spesial daripada teman-temanku yang lain. Kamu kuijinkan masuk di ruang tamu dalam rumah. Bukan teras depan rumah.

Kamu terlihat asyik bicara dengan orang tuaku.

 

Setelah saling kenal, kau menyatakan padaku tentang hatimu terhadapku.

Hatiku yang tertutup mulai sedikit terbuka dengan kehadiranmu.

Kamu jadi sering berkunjung kerumahku.

 

Kamu mengulang kembali pernyataanmu tentang tidak sekedar ingin berteman,

Kamu menyatakan padaku bahwa kamu ingin menjadikan aku pasangan hidupmu.

Aku jadi kaget…,tapi jawabanku hanya mengangguk pelan dan ragu.

Kamu hanya diam dan sedikit tersenyum. Senyum yang indah menurutku.

 

—-

Setelah itu…

Di kampus…(Kenapa harus terjadi)

Aku bertemu dengan pandangan pertamaku, cinta pertamaku. Ternyata dia juga kuliah disini.

Aku sedikit terkejut, karena sekian tahun aku tak bertemu dengannya.

Dia masih seperti dulu. Ganteng, putih, tinggi, sedikit berisi, disamping sifatnya yang tempramen. Memang aku melihat secara fisik. Tapi tetap saja rasa ini mengalahkan logika.

Ingin rasanya ku rajut kembali cintaku dengannya. Cinta yang dulu kandas karena orang tuaku tidak setuju jika aku dengannya hanya karena perbedaan suku.

 

Dan Aku mulai melupakanmu.

 

 

 

Malam yang dingin (2)

 

 

Beranjak dari tidurnya, membuka pintu….
Masih didalam kamar…
“Ada apa bang?”.
Didepan pintu..
“Dah makan kamu?”
“Belum bang, kenapa emang?”. Sambil mbenerin kolornya yang mau mlorot.
“Kalo belum ya ayo kita makan, Kita nyoba makan di Resto steak yuk, aku belum pernah…gimana?”
“Emm…mau sih, tapi abang mau nunggu saya mandi dulu..?”.Pria ini susah menolak ajakan.
“Ya udah sana gih cepet mandinya…”Menyalakan rokok dan duduk dikursi depan kamar kost pria itu.
“Ok bang..”mematikan mp3 di HPnya..Bergegas menuju kamar mandi

Rintik hujan tampak sudah reda.

Mereka berangkat menuju Resto steak dengan naik motor matic lelaki itu.

Malam yang dingin. Jaket hoodie hitam yang dipakai pria itu masih tertembus oleh dingin sampai kulit.

Sampai di Resto steak.

Ramai pengunjung silih berganti keluar masuk.
Memarkir sepeda motor, masuk resto mencari tempat yang kosong.
Akhirnya dapat tempat juga, tepat dipojok belakang kiri.
Seoarang perempuan Pelayan Resto menghampiri dan memberikan buku menu.

Mereka berdua membolak balik buku itu untuk memilih makanan yang mau dipesan.

Pria itu memesan Special Steak tenderloin dan minuman Hot orange. Sedang lelaki itu memesan Chicken steak with mushroom sauce dan Hot tea.
Pelayan itu mengulangi pesanan mereka. Mereka mengangguk menandakan pesanan mereka sudah benar.

“Baik mas. Makasih.” Kemudian pelayan itu berlalu.

“Sama-sama mbak. Jangan lama-lama ya mbak.” Tersenyum.

Sambil nunggu pesanan mereka ngobrol..

“Eh..ndak biasanya kamu pulang telat?kenapa?.Menyalakan rokok.

Pria itu ikut nyalain rokok.

—–

Dua jam yang lalu.

Pria itu terpaksa menuntun motornya. Meminggirkan motornya, mencek keadaan motornya. Dugaannya ndak salah. Kehabisan bensin. Maklum saja indikator bensinnya sudah rusak patah.

Mogok di jalan yang sedikit dengan penerangan lampu jalan, sebelah kanan jalan sungai besar. “Pas bener.” gumamnya.

Melanjutkan menuntun motor dan berharap ada warung yang jual bensin eceran.

Dalam perjalanan itu dia melihat seorang bapak tua dengan motor tuanya lagi mengutak atik motor. Tampaknya mogok juga. Pria itu tetap berlalu dan melewati orang tua itu begitu saja dan berharap segera menemukan penjual bensin.

Tak Berapa lama sampai pada jalan besar yang ramai dan akhirnya pria itu melihat warung yang jual bensin, dan letaknya di seberang jalan.

Dia harus nyebrang cukup lama karena lalu lalang mobil ramai dan ndak mau pelan.Setelah dapat bensin, motornya bisa jalan lagi.

Baru saja berjalan dengan motornya, pria itu melihat orang tua sedang nuntun motornya.

Dihampirinya…ternyata orang tua tadi yang dia liat waktu ngutak atik motor yang mogok itu. Pria itu menawari untuk mendorong motor orang tua itu.

Akhirnya didorong sampai gang depan rumahnya.

 

—-

Pelayan datang membawa minuman yang telah dipesan.

“Permisi mas, minumannya..” Pelayan terseyum.

“Makasih mbak.”jawab pria itu.

 

“Wesss…jadi critanya kamu nolongin orang…pantesan pulangnya ampe malam.” Mendekatkan gelas hot teanya dan mengaduk.

“Hehe…”.Tertawa pria itu.

Rokok mereka sudah habis dan lelaki itu menyalakan lagi. Pesanan makanan masih belum datang.

Pelayan datang.
“Maaf mas…” Ee…anu…”

 

 

Bersambung….

 

 

 

Maap kalo berantakan…:D

 

Malam yang dingin.

 

Malam yang dingin.

Rintik hujan masih belum reda ketika seorang pria memasuki pekarangan rumah kostnya. Dia memarkirkan motor astrea prima buatan tahun 1990 itu tepat didepan kamarnya kemudian melepas jas hujan dan helmnya.Wajahnya tampak kusut, lelah.

 

“Wessss….baru pulang kerja neh? Lembur ? Kejar setoran kayaknya, ngumpulin buat modal kawinan yaaa..”

Sambil terkekeh, seorang lelaki tetangga kamar kost yang dari tadi duduk di depan kamarnya sambil mengisap rokok itu melempar pertanyaan.  

 

Tersenyum kecil dan memperlihatkan lesung pipinya yang manis.

“Abang bisa aja, pacar aja ga punya.”Sambil membuka pintu kamarnya.

“Lha poto cewek yang ada dimejamu itu siapa?”. (Pernah sesekali lelaki ini masuk ke kamar pria itu  lihat poto cewek yang dibingkai pigura hitam. Tertulis dipinggiran pigura itu “Kamu cantik”.)

Masih didepan pintu kamar yang sudah terbuka.

“Oh…bukan bang, itu Dian Katro Wardono waktu masih belum terkenal seperti sekarang..”Bentar ya bang, ganti baju dulu.”

Kemudian pria itu masuk kamar. Melepas tas ransel dan jam tangan yang masih melekat dibadannya. Menghidupkan mp3 dari HPnya kemudian meletakkannya dimeja.

Melepas kemeja dan celana panjangnya dan berganti dengan kaos oblong  hitam polos dan celana kolor bercorak Tim Sepak bola kesayangannya. Juventus.

 

Merebahkan badannya melepas sejenak lelah. Menatap langit-langit dan menikmati alunan lagu dari mp3nya. (Lightning Seeds-Perfect)

 

….

A perfect day a perfect night
Tell me all those perfect lies
And lie back in the garden till it’s light
Perfect silence me and you
It’s really me, I really do
Remember every moment magnified…

 

Menerawang pada masa lalu….

Tiba-tiba Pintunya diketuk…Terawangannyapun pudar.

“Ya…bentar.”

 

 

Bersambung…

 

 

 

 

 

 

 

Kayaknya…hehehehe…

 

 

Ya Bodohnya aku

stupid

 

 

 

 

 

 

Ya bodohnya aku, bahkan kau selalu memalingkan mukamu.

Ya bodohnya aku, bahkan kau tak mau mendengarkanku.

Ya bodohnya aku, bahkan kau tak peduli padaku.

 

Ya bodohnya aku, bahkan selalu ku penuhi permintaanmu.

Ya bodohnya aku, bahkan selalu ku turuti keinginanmu.

Ya bodohnya aku, bahkan selalu ku patuhi perintahmu.

 

Ya bodohnya aku, bahkan kau selalu rendahkanku.

Ya bodohnya aku, bahkan kau tak pernah puas  memakiku.

Ya bodohnya aku, bahkan kau tak pernah memujiku.

 

Ya bodohnya aku, semua ini kulakukan untukmu.

Ya bodohnya aku, bahkan kaupun hanyalah aku.

 

Letika Kita dan hati kita yang sedang berkecamuk.

Perempuanku

 

Perempuanku

Suaminya seorang PNS, karena penghasilan PNS kurang mencukupi, perempuan ini mencari tambahan dengan membantu kakak perempuannya yang seorang penjual tikar sebut saja mbokdhe  Darmo di Semarang. Dia bekerja  selaku pembeli (kulakan) dari pengrajin tikar (tikar yang terbuat dari mendong) dari pasar ke pasar di sebuah kota kecil di lereng Gunung Lawu, yang kemudian dikirim ke Semarang.

Kegiatan ini dia lakukan hanya  tiap 5 hari sekali sesuai dengan hari jawa yang disebut hari pasaran yaitu tiap pon. Mbokdhe Darmo mengirimkan uang yang diantar langsung oleh laki-laki yang juga kakak dari perempuan ini dan sebut saja dia Pakdhe Arjo.  Biasanya Pakdhe datang menjelang maghrib. Kemudian Malamnya sekitar jam dua mereka berdua sudah siap berangkat ke pasar dengan dijemput oleh bis antar desa. Sampai di pasar kegiatan jual beli tikarpun berlangsung hingga menjelang subuh. Setelah sholat subuh tikar2 itu dihitung dan ditata yang dibantu oleh tukang kuli panggul, setelah selesai di bawa pulang. Sampai dirumah tikar-tikar itu dijemur agar kering dan kaku selama 2-3 jam, setelah dijemur di hitung lagi namun kali ini di hitungnya per kodi (20 biji) dan ditumpuk rapi sedemikian rupa supaya tidak merusak tikar. Setelah sekitar 6-7 kali kulakan, tikar-tikar dikirim ke Semarang dengan truk.

Pernah kejadian perempuan ini dicurangi oleh tukang kuli panggul, ketika mereka membantu menata tikar-tikar, mereka dengan sengaja mengambil tikar itu beberapa lembar untuk kemudian dijual lagi, dan  mereka jualnya ke perempuan ini lagi. Merasa ada yang tidak beres dengan uang yang keluar dengan tikar yang dibeli, akhirnya pembelian berikutnya perempuan ini tidak lagi memakai mereka.

Selain kulakan tikar yang hanya 5 hari sekali,hari yang lain digunakan untuk jual pakaian di pasar dekat rumah. Karena kegiatan ini, anaknya tiap hari dititipkan ke tetangga belakang rumah sampai siang.

Ketika anak pertamanya mulai masuk SD, oleh suaminya disuruh berhenti berjualan pakaian, tapi untuk kulakan tikar tetap jalan.

_______

Hingga pada suatu ketika penjualan tikar di Semarang mengalami penurunan, serta kesehatan mbokdhe Darmo yang drop, akhirnya kulakan tikar dihentikan.

Untuk mengganti usaha tambahannya, perempuan ini  memulai  berjualan dari nasi pecel, brambang asem, lotis, jual kristik dari benang wol itu, terus jual hiasan dinding dari kertas pita yang dibuat bunga, jual selendang batik yang dibuat sendiri proses membuat batik dari ‘malam’ dilukis dengan canting, buka warung nasi soto karena dekat rumahnya ada arena bilyar. Ketika arena bilyar pindah, warung mulai sepi akhirnya ganti jadi tukang jahit. Walau seluruh jerih payahnya hanya mampu untuk membantu memenuhi  kebutuhan sehari-hari, paling tidak ada sedikit  untuk bayar sekolah anak-anaknya.

 Tak terasa anak pertama mulai kuliah, dan kebetulan di Jakarta. Karena anaknya diterima untuk kuliah disana, suaminya terpaksa menjual motor vespa untuk biaya kuliah. Walau motor satu-satunya yang dimiliki.

Perempuan ini masih tetap terima order jahit walau sangat jarang karena kemampuan matanya yang sudah mulai menurun. Selain itu perempuan ini mulai jualan lagi yaitu cap jay, cap jay bungkus ini dijual keliling ke pasar. Kegiatan buat cap jaypun hampir sama dengan waktu kulakan tikar. Dimulai jam 2 pagi, selesai subuh, dijual jam 6 pagi. Hasil jualan ini kadang dikirim untuk anaknya di Jakarta.

Hingga anaknya lulus kuliah, dia sudah berhenti  jualan cap jay, kecuali order jahit yang masih diterima.

Sekarang kegiatan perempuan ini dan suaminya merawat tanaman antorium.

 

Maafkanku yang pernah menyakitimu karena sikapku, perkataanku..

Terimakasih perempuanku.

I Luv U Mam.

Sembah sujudku padamu.

Semoga selalu dalam lindungan-Nya.

 

*Teruntuk Mamaku yang sudah mau-maunya melahirkanku..:D

 

 

 

Tulisan Sebelumnya »